Misteri Anak Adam : Antara Nekat & Tekad

(Tulisan kedua dari tiga tulisan)

Kemampuan Mengendalikan Diri

Bagi anda yang merasa sering melakukan sesuatu tindakan di luar kontrol dan itu benar-benar merugikan, maka yang perlu anda lakukan adalah mengoreksi kemampuan anda dalam mengontrol-diri. Dalam teori kompetensi, kemampuan seseorang dalam mengontrol diri ini termasuk kunci (key skill). Di sejumlah perusahaan jasa yang berhadapan langsung pada publik (customer), kemampuan seperti ini merupakan rukun profesi.

Kalau membaca penjelasan Spencer (Competence At Work, Models for Superior Performance, 1993), kontrol-diri (self control) adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya supaya tetap under-control dan kemampuannya dalam menahan diri dari tindakan brutal ketika ada pemicu, ada oposisi, atau berada di kondisi yang menegangkan (stressful condition). Orang yang punya kemampuan seperti itu, biasanya tetap bisa menggunakan akal sehat (tidak kalap atau tidak kalut), tetap bisa memunculkan perspektif positif dan tetap tenang (stabil).

Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan anda dalam mengontrol diri, di bawah ini ada penjelasan yang dapat kita jadikan semacam acuan untuk mengoreksi diri.

  • Anda mudah kehilangan kendali, mudah frustasi, mudah meluapkan ekspresi emosi secara meledak-ledak, atau tidak efektif dalam menjalankan aktivitas karena emosi yang tidak terkontrol (skala: 0)
  • Anda lebih memilih menghindari stress atau lebih memilih menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan ketimbang memperjuangkan keinginan atau prestasi. Anda lebih memilih diam tapi selamat ketimbang maju tapi butuh perjuangan (skala: -1)
  • Anda tahan terhadap berbagai tekanan atau godaan (skala: 1)
  • Anda sudah bisa mengontrol emosi tetapi belum bisa menggunakannya secara konstruktif (skala: 2)
  • Anda sudah sanggup memberikan respon dengan tenang dan mendiskusikannya secara fair (skala: 3)
  • Anda sudah bisa mengelola tekanan secara efektif, tidak mempengaruhi hasil pekerjaan atau tidak mempengaruhi proses pekerjaan (skala: 4)
  • Anda bisa memberikan respon secara konstruktif: bisa membangun yang lebih positif dan mengantisipasi problem (skala: 5)
  • Anda sudah bisa menenangkan diri anda dan orang lain atau sanggup memainkan peranan sebagai leader (skala: 6)

Selain bisa menggunakan penjelasan di atas, kita pun bisa mengukurnya dengan melihat cara kita dalam menyikapi hal-hal yang tidak anda inginkan. Tentang cara ini, ada yang disebut

  • Reaktif
  • Proaktif.

Pasti kita sudah akrab dengan kedua istilah di atas, Orang reaktif adalah orang yang tindakannya lebih sering didasari oleh impuls-sesaat atau tergantung pada stimuli eksternal (tanpa proses berpikir atau kesadaran memilih). Karena kita dihina si A, maka kita membalas menghinanya. Karena kita dimarahi atasan, kita membalasnya dengan amarah pula. Karena gaji kita kecil maka kita mencuri, dan seterusnya.

Orang reaktif sangat berpotensi melakukan tindakan nekad yang menimbulkan penyelesan.

Sedangkan Orang proaktif adalah orang yang keputusannya atau tindakannya sudah dilakukan proses berpikir, berdasarkan pada nilai-nilai yang benar (apa yang benar, apa yang baik dan apa yang bermanfaat) dan sangat berpotensi melahirkan tekad-tekad positif untuk meraih sasaran yang positif.

Karena itu, masih menurut Covey, salah satu pilar kebiasaan hidup yang efektif adalah belajar menjadi orang yang proaktif.

Menurut teori Logika (Manthiq), ada sembilah model keputusan yang berpotensi salah. Salah satunya adalah ketika kita reaktif.

Kesembilan itu adalah:

  1. Keputusan yang langsung pada kesimpulan hitam-putih, salah-benar; langsung membuat penghakiman, penuduhan dan semisalnya.
  2. Keputusan yang didasari oleh fakta yang dangkal.
  3. Keputusan yang didasari oleh pengaruh dari luar semata atau hanya ikut-ikutan.
  4. Keputusan yang didasari oleh fanatisme pada pendapat seseorang, tanpa pertimbangan akal.
  5. Keputusan yang didasari oleh pengaruh tradisi nenek moyang.
  6. Keputusan yang didasari oleh ledakan emosi sesaat (reaktif) dan nafsu sesaat.
  7. Keputusan yang didasari oleh keinginan “Asal Beda”, “Asal Bukan Si Anu”, persaingan negatif, dan semisalnya.
  8. Keputusan yang didasari oleh hal-hal yang sifatnya lahiriah semata.
  9. Keputusan yang didasari oleh pemahaman yang salah.

Itulah beberapa acuan yang bisa kita jadikan semacam pedoman untuk mengukur apakah kita reaktif atau bukan, apakah kita lebih sering (berpotensi) melakukan tindakan nekad atau “tindakan tekad”.

 

(Bersambung)

del.icio.us Reddit Digg Technorati Google StumbleUpon Tailrank Furl Netscape Yahoo BlinkList Feed Me Links Bookmark.it Ask Diggita